Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

- - -

Aku tak mau pulang.
Sudah berapa kali aku mengatakannya.
Kenapa aku harus pulang?

Mereka saja tak pulang.
Kenapa aku harus pulang?


Bukan.
Kemana aku harus pulang?

Rumah?
Adakah tempat yang bisa kusebut rumah?
Katakan saja iya. Maka akan kutuju dimanapun letaknya.

Sekalipun harus merangkak.


Rabu, 22 Februari 2012

Pisangku sayang

     Rubi berlari masuk rumah. Dia membanting pintu di belakangnya. Wajahnya ditekuk kesal. Luna sudah ribuan kali mencela dan menjelek-jelekkan dirinya.
     "Astapirulohh. Rubi! Kalo masuk mbo ya ngucapin 'assalamualaikum' dulu."
Rubi melirik sekilas. Bunda lari-lari dari dapur sambil membawa sutil kesayangannya.
     "Bunda udah berapa kali bilang? Nanti bunda dikira ndak mendidik kamu yang benar."
   "Iya, Bunda. Iya! Maaf." Rubi melepas sepatu dan kaos kakinya. "Assalamualaikum!"
     "Kok ndak ikhlas gitu?" Bunda melipat tangannnya di dada.
     Rubi manyun. "Bunda, ih! Nggak liat apa Rubi lagi bete?"
     "Bete?" Bunda mengerutkan kening. "Bete apaan toh nduk?"
   "Bundaaaaaa!" Rubi menjerit tertahan. Dia melewati bunda tanpa menoleh-noleh lagi. Kalo Rubi nggak buru-buru pergi dari situ, nanti Rubi tambah emosi trus numpahin amarah ke bunda dan berubah jadi anak durhaka.
     "Habis ganti baju, langsung makan ya, Bi!" pesan bunda, sebelum Rubi hilang di ujung tangga.
     Rubi meilempar tas sekolah di atas meja belajar. Dia melepas seragamnya dan duduk di pinggir beranda. Rubi perlu mendinginkan kepalanya dulu. Belum sampai lima menit duduk, suara bunda yang medok menggelegar dari bawah. Rubi mengganti kaosnya dan terpaksa turun.
     Rubi menatap meja makan. Itu dia. Pangkal dari segala masalahnya. Yang membuatnya diolok-olok setiap saat di sekolah. Sesuatu yang bertengger dengan manis di atas piring. Yang selalu disediakan bunda untuknya. Sesuatu berwarna kuning keemasan. Kalo masak rasanya manis. Kalo mentah, alot dan pahit. Itu. Buah kesukaan Rubi. Juga kesukaan monyet. Pisang.
***
     "Nyet, mau kemana lo?" Agus melingkarkan lengannya di bahu Rubi. 
     Rubi menyodokkan sikunya. "Suka-suka gue, Yam!"
     Agus meringis. "Galak amat sih lo!"
     "Bodo!" Rubi cepat-cepat ngibrit ke kantin. Dia dari dulu bertekad. Siapapun yang memanggilnya makhluk 'Teori Darwin', Rubi akan membalas dengan meminjam nama -saudara-sepupu-sanak keluarga- di kerajaan hutan sesuai nama depan mereka.
     "Eh, Monyet!! Sini!" Hedi melambai padanya begitu Rubi sampai. Luna juga ada, duduk di hadapan Hedi. Dengan malas, Rubi mendekati keduanya. 
   Hedi. Dengan semangat milleniumnya, berusaha mendamaikan kami. Rubi membuang muka. Tanpa disangka, Luna pun angkat suara.
  "Nyet...maafin gue deh. Gue janji nggak bakal ngejek-ngejek pisang lo lagi," Luna menarik ujung seragamnya.
     "Eh, Landak! lo niat minta maaf nggak sih? Kok masih 'nyat-nyet-nyat-nyet' aja?" Rubi mendelik.
   Luna serba salah. "Eh, iya, iya. Gue minta maaf soal itu juga...Bi," ujar Luna, setelah susah payah mengontrol lidahnya.
     "Iya. Gue maafin," Rubi mendengus. "Tapi kali ini aja."
     "Okee! Siap bu...," Luna mengerem mulutnya. Hampir saja 'nyet' meluncur indah.
     "Lun, emang kenapa sih lo sampai ngejelek-jelekin pisang gue, trus menghina dina gue kayak gitu?" tanya Rubi, setelah berpikir sejenak.
     "Kayak gue nggak pernah aja ngehina lo sama pisang lo itu," Luna menyuap baksonya.
     "Tapi 'kan nggak seekstrem itu!"
    Luna menelan pentol baso secepat yang dia bisa. "Kemarin, gue denger Kak Aben -gebetan lo yang oke itu- ngomong sama temennya. Katanya dia...nggak suka pisang," ucap Luna, dengan nada berbelasungkawa paling nelangsa.di dunia.
     Rubi shock. Rubi sangat suka pisang. Kak Aben nggak suka pisang. Berdasarkan logika matematika yang baru dipelajarinya tadi, itu artinya, Kak Aben nggak suka Rubi yang sangat suka pisang!
     "Bi, lo nggak apa-apa?" tanya Luna, cemas.
     Rubi menggebrak meja kantin. Bikin seisi kantin keselek, kaget.
    "Kenapa sih dia nggak suka pisang?" tanya Rubi. Hedi dan Luna menggeleng serentak.
     "Pisang itu tuh. Enak, tau! Bergizi! Bisa jadi pengganti nasi. Juga buat diet!" kata Rubi, berapi-api.
     Hedi dan Luna saling lirik.
    "Kalian tau? Selain kelapa, yang pucuk sampe akarnya berguna, ya pisang itu!" Rubi berdiri, menunjuk nasi bungkus di belakang Hedi. "Tuh, itu tuh, kalo nggak pake daun pisang, nggak oke. Nggak cantik. Nggak tradisional. Trus jantung ato bonggolnya, sebelum jadi pisang, bisa disayur. Kalo jantungnya masak dan jadi pisang, enak buat dimakan kapan aja. Apalagi batangnya, bisa dikumpulin buat dijadiin kertas ato serat pakaian, ato buat main di sungai gitu. Pelepahnya bisa jadi kerajinan tangan. Nah, habis itu tunasnya bisa dibikin kripik. Apalagi yang kurang, coba?" Rubi merepet.
     "Kulit pisangnya buat apaan, Bi?"
     Rubi berbalik. Dion mengangkat alisnya, ingin tahu.
     "Kulitnya...ngg...bisa buat ngerjain orang!" sahut Rubi, nggak ilmiah banget.
  Dion tertawa. "Dasar monyet. Segitu ngebelainnya sama pisang," ujarnya, membangkitkan jiwa 'kehutanan'nya.
    "Eh, Dinosaurus! Lo mesti malu sama monyet. Monyet aja lebih milih makanan sehat dan bergizi model pisang daripada makanan kayak ulet gitu!" Rubi menunjuk piring isi mie goreng yang sisa separo, punya Dion.
     Sekarang, bukan hanya Dion yang menatapnya. Seluruh mata tertuju padanya. Terutama ibu kantin, yang mendelik sambil mendesis, karena Rubi menjelek-jelekan dagangan tak sehat, sumber pencahariannya.
     Luna meninggalkan basonya dan menyeret Rubi keluar dari sana.
     "Lo gila, Bi? Lo mempertaruhkan nasib makan siang lo dalam dua tahun ke depan," Luna memarahinya.
     "Biarin. Gue bisa bawa bekal sendiri," kata Rubi, sewot.
    Hedi bergegas mengejar mereka, setelah ngebayarin baso Luna. Dia geleng-geleng. Kalo urusan pisang ini cowok yang ngomong, pasti artinya melenceng dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.
     ***
     Rubi nggak sengaja liat Kak Aben turun dari tangga kelas tiga bersama teman-temannya. Dan lihat! Mereka semua menuju ke arah Rubi. Rubi panik seketika. Gimana posisi yang oke tapi nggak keliatan 'niat' ngecengin Kak Aben? Rubi duduk di kursi depan kelas. Berdiri. Lalu duduk lagi. Akhirnya dia memutuskan duduk dan mengeluarkan buah kesayangannya dari dalam kotak makan. Rubi menarik kulit pisang dengan sangat-sangat lambat. Biar keliatan normal. Meski keliatannya nggak wajar. Mereka semakin dekat. Semakin pelan Rubi menarik kulitnya.
     Srreeet...
    "Eh, ini cewek yang kemaren, Ben!" Seseorang duduk di sampingnya. Anak kelas tiga. Temen Kak Aben.
  Jantung Rubi jumpalitan. Mereka berenti di depannya! Dan menyapa Rubi! Hellow~ sejak kapan dreamland pindah ke sekolah? Rubi serasa melayang. Terbang ke awan. Menyapa bintang-bintang, halah! 
     Aben mengamatinya. Lalu tersenyum. "Oiya, lo cewek yang seminar pisang di kantin kemaren 'kan?"
     Rubi meringis. Jadi waktu itu dia ada di sana ya?
     "Seminar lo oke juga. Gue nggak kepikiran. Bisa buat bikin TA bahasa gue tuh," sambung Aben.
     Rubi mengernyit. Kayaknya ada yang salah deh.
     "TA? bukannya kakak nggak suka pisang?" tanya Rubi.
    "Lho? kata siapa?" cowok di samping Rubi bertanya, serius. "Aben ini satu rumpun sama monyet. Dia pecinta pisang nomer satu. Dia hampir ikutan lo seminar waktu itu."
     Cowok di depan Rubi merangkul Aben. "Yoi. Pisang sesuai KBBI, 'kan, Ben?"
      Aben tertawa. "Yaiyalah pisang KBBI! Apaan sih lo?"
      Rubi memandang mereka, bingung.
     "Pisang KBBI? pisang jenis apa tuh, Kak?"
     "Pisang kayak yang lo pegang gitu,"
     "Kalo bukan jenis KBBI?" tanya Rubi, polos.
    "Kalo bukan jenis KBBI, ya KBLL. Kalo pisang sesuai KBLL -Kata Benda Laki-Laki-, itu rahasia!" jawab teman Aben.
    Mereka bertiga tertawa. Perlu waktu bagi Rubi buat menelaah obrolan mereka. Sampai akhirnya Rubi 'ngeh' dan membuat wajahnya sedikit memerah. Rubi malu telah bertanya.
     Sialan si Landak! Hampir bikin gue patah hati! Kak Aben nggak suka pisang, kalo pisangnya sesuai KBLL! Tentu aja. Masa pisang makan pisang?

Rabu, 01 Februari 2012

Menggenggam Pasir Last Part

     Kali ini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku pasrah. Kuserahkan segalanya pada Tuhan. Berbulan-bulan tak ada yang bisa kulakukan. Aku menungguNya memberikan petunjuk padaku atau mencabut nyawaku. Tapi, mana?! Setelah segenap jiwaku memohon padaNya, tidak ada sedikitpun balasan yang kudapat. Aku marah besar! Cukup sudah! Aku ingin meninggalkanNya, meninggalkan semuanya. Sungguh aku ingin mati! Mati dan membuat mereka menyesal.
      Aku menunggu kematian. Setiap malam selama tiga bulan, berbaring dengan mata terpejam, dan berharap tak akan terbuka selamanya. Ingin mati, tapi tak berani bunuh diri. Aku berdoa tiap malam, agar Tuhan mengirim malaikat mautnya kepadaku. Entah Tuhan terlalu sayang atau terlalu muak padaku. Tak sedikitpun ada tanda-tanda dia ingin 'membawaku'. KetidakpedulianNya sungguh menyiksaku. Dan...malam itu, aku seperti ditampar. Telak. Aku tersadar. Tuhan tidak akan berbuat apapun untuk kita, jika kita sendiri tidak melakukan apapun. 
     Perlahan...aku bangkit dan membentuk jalanku sendiri, walaupun aku yakin, ada campur tanganNya di situ. Hanya ada satu cara! Menyelamatkan yang masih tersisa. Meski aku tak bisa memperbaiki apa yang sudah hancur. Setidaknya aku bisa mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi. Aku...ingin berteman dengannya. Ingin mengerti keadaannya. Aku ingin Ita bisa bersandar padaku. Bisa mengandalkanku sebagai kakak. Sehingga dia tak perlu memendam semuanya sendirian lagi. Aku mulai mengajaknya berkomunikasi, sedikit demi sedikit. Setiap melihat dirinya, sebagian diriku marah karena kecewa padanya. Tega-teganya dia berbuat seperti itu! Tapi sebagian diriku yang lain menangis. Aku yakin hal-hal ini lebih membuatnya tersiksa. Jauh melebihi perasaan terlukaku. Saat aku benar-benar menginginkan keadaan kami berdua membaik, Tuhan memberiku jalan. Aku bisa lebih dekat dengannya, dengan masuk ke dunia pergaulannya. Satu demi satu kukenal sahabat-sahabat Ita. Aku bisa berbicara dengannya lebih leluasa. Akhirnya kami saling mengenal.
        Lucu memang. Dua saudara, bertahun-tahun bersama, tapi tak pernah duduk berdua di satu tempat. Tak ada satupun di dunia ini yang bisa menukar kebahagiaanku karena aku bisa dekat dengannya. Ita, yang dulu sering sakit-sakitan, selalu dilarang untuk berbuat sesuatu yang diinginkannya. Ayahku tidak peduli. Ibuku memarahinya dan aku membencinya. Setiap hal yang dilakukannya adalah salah. Ita dikungkung seperti orang pesakitan. Dikurung dengan jeruji 'larangan'. Dan merasa diperlakukan seperti anak buangan. Padahal itu semua demi kesehatannya. Justru karena umbul-umbul fisik ambruk dan tekanan mental, akhirnya dia berbuat demikian. Bagai pasir yang semakin erat digenggam, semakin banyak yang hilang. Kami terlalu erat 'menggenggamnya' hingga tak sadar bahwa dia 'hilang' dari 'genggaman'. Sekarang, aku mampu membaca jalan pikirannya. Aku berjanji, tak akan membiarkannya sendirian lagi. Aku berjanji!
       Aku berusaha melupakan Feri, walaupun itu tidak mudah. Aku berani melepaskannya dari pikiranku. Sebagai gantinya, aku mendapatkan Ita kembali ke sisiku. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ayah? Beruntunglah kalian yang punya ayah walaupun sudah meninggal. Setidaknya mereka menyayangi kalian semasa hidup. Sementara kami, memiliki ayah yang masih hidup, tapi 'mati' perasaan terhadap kami. Aku tak pernah punya solusi untuknya. Bertahun-tahun segala upaya menumbuhkan rasa memiliki telah ibu dan aku lakukan. Tapi ketidakpeduliannya sungguh mencengangkan.  Aku tak peduli. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa pasir yang bisa kulindungi. Yang masih berusaha saling menguatkan rasa sayang. Sungguh. Aku tak peduli lagi padanya. Selama aku  masih berdiri di sisi Ibu dan Ita. Aku bahagia.

Senin, 23 Mei 2011

Menggenggam Pasir Part 5

     Percaya. Begitu sulitnya kah hal itu untuk dijaga dan dipelihara? Kepercayaan...hanya satu kata, sungguh perlu sejuta jalan untuk mendapatkannya namun hanya perlu sekejap untuk menghancurkannya, tak bersisa. Setiap rasa percaya yang kita berikan atau kita terima, memiliki harga yang harus dibayarkan. Jika kepercayaan itu sendiri disalahgunakan, hanya akan menyakiti dan membuat luka di hati. Kesetiaan dan pengorbanan adalah satu hal yang didasarkan atas rasa kepercayaan. Kepercayaan ada harganya. Ibu percaya. Ibu terluka, dan aku juga. Feri kembali kepada 'pacar tanpa restu'nya.
     Selama ini aku terlalu banyak mengira, lalu berharap. Harapan yang sia-sia. Setahun ini aku bergelut dengan pikiran dan hatiku. Berharap kalau yang kulakukan adalah salah. Aku selalu beranggapan bahwa kepercayaan berada di atas segalanya. Tidak ada yang bisa menggantikan rasa percaya yang sudah hancur berkeping-keping. Tapi ternyata aku salah. Masih ada yang bisa berdiri di atas rasa percaya. Itulah cinta. Hanya karena cinta, ibu memaafkan ayah. Hanya karena cinta, akupun mulai memaafkan Feri. Cinta itu, yang mulai membuatku memupuk rasa percayaku lagi. Aku percaya padanya. Aku percaya dia akan kembali padaku. Aku percaya bahwa anggapanku lah yang salah. Aku percaya dia tidak bermaksud seperti itu. Aku percaya...lalu terluka.
     Hari ini aku menemukan Feri di salah satu sudut ruang guru di sekolahku bersama kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan kepala sekolahku. Feri memakai seragam yang sama denganku. Senyumku mengembang saat mata kami beradu dan dia menyapaku. Dia masuk sekolah ini...!!! aku bersorak dalam hati. Aku cepat-cepat kembali ke kelas dan menceritakannya pada sahabatku, Elly.
     "Yang mana sih orangnya? Aku jadi penasaran nih..." dia mengerucutkan bibirnya. Dari seantreo SMA ini, hanya teman-teman satu SMP-ku saja yang tahu hubunganku dan Feri, termasuk Elly. Dia jadi sahabatku dari SMP dan jadi teman sebangkuku di  SMA, sayang sekarang kami sudah pisah kelas. Keesokan harinya ku tunjukkan yang mana Feri padanya. Lama sekali Elly memandanginya.
     "Hmm...jadi ceritanya, dia adik kelas kita sekarang?" Elly menoleh padaku. Aku mengangguk. "Buat apa dia masuk sekolah di sini?" kali ini aku menggeleng. Aku tidak tahu. Feri tidak pernah mengungkit hal ini karena aku belum pernah menanyakannya. Mungkin saja karena sekolah ini adalah sekolah nomor satu di daerahku. Atau mungkin...."Jangan-jangan dia mau ngejar kamu?" Elly menggodaku. Aku mengelak dan cepat-cepat menariknya ke kantin. Namun, jujur...hal itu sempat terlintas dipikiranku. Apakah Tuhan memberikan kesempatan kedua padaku? untuk memperbaiki segalanya? Sungguh bukan hal yang mudah melupakan rasa cinta yang sudah tertanam lebih dari sepuluh tahun ini.
Seperti sudah kubilang, aku terlalu banyak mengira dan berharap. Aku terlalu percaya karena cinta. Sebulan setelah aku menunjukkan Feri pada Elly, Elly menarikku ke kelasnya.
     "Antia sayang, kamu tahu Ara kan?" tanyanya. Aku mengangguk. Ara adalah teman sekelasku sekarang. 
     "kenapa?"
     "Nah..kamu tahukan kalau aku sama Ara satu ekskul?"
     "Iyaaa...terus kenapa?" Elly keliatan ragu-ragu.
     "Kemarin aku liat dia boncengan sama Feri." dia menatapku sebentar sebelum melanjutkan. "Sebenarnya, udah beberapa kali aku liat."
     "Ooh."
   Elly terlihat agak jengkel. Mungkin reaksi yang diharapkannya terjadi padaku tidak seperti yang dibayangkannya. Aku hanya diam saja. Karena jujur...aku meragukan apa yang dipikirkannya. Aku masih percaya, itu hanya boncengan biasa. Seperti biasa yang kulakukan jika tidak dijemput ibu. Seminggu kemudian setelah kegiatan ekskulku selesai, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mereka berdua di atas satu motor. Feri agak terkejut saat melihatku. Aku tersenyum dengan paksa saat mata kami bertemu. Ara pun melihat ke arahku. Senyumnya agak aneh. Kurasa dia tahu apa hubungan kami dulu. Bagi Feri mungkin yang lalu biarlah berlalu, tapi bagiku? Ah, sudahlah...aku terlalu bodoh.
Setelah hari itu, mereka berdua seakan-akan ingin satu sekolah tahu hubungan mereka. Aku heran. Apa mereka tidak punya tempat pacaran yang lebih baik lagi selain di depan kelasku? Yang lebih menyebalkan, apa Feri tidak bisa mencari pacar di angkatannya saja? kenapa mesti seniornya? dan parahnya, kenapa mesti sekelas denganku?
     Di kelas baruku ini, aku punya orang-orang yang bisa kusebut sebagai sahabat. Tiga laki-laki dan seorang perempuan yang seperti laki-laki. Nanda, Arul, Seto dan Eci. Arul dan Eci tahu permasalahanku ini. Aku sungguh berterimakasih pada mereka berdua yang mau menemaniku atau kujadikan tameng jika Ara dan Feri ada di depan kelasku. Sebenarnya aku ingin menceritakannya juga pada Nanda dan Seto. Sayang mereka berdua sudah terlanjur benci pada Feri. Apakah aku belum menceritakannya? Feri memukul salah seorang teman seangkatanku. Sejak saat itu, dia menjadi salah satu adik kelas yang dimusuhi teman-temanku. Satu lagi ketidakpercayaanku bertambah. Dia bukan Feri yang kukenal.

Kamis, 28 April 2011

Menggenggam Pasir Part 4

     Malam itu aku mendengar penjelasan darinya. Lewat telepon! Feri bilang, dia hanya ingin coba-coba berhubungan dengan orang lain sebelum mendekatiku. Setelah dia berkata seperti itu, aku seakan-akan menulikan telingaku. Alasan apa itu?! Kalau memang ingin coba-coba, kenapa tidak langsung denganku? toh pada akhirnya akan denganku juga. Itu kalau dia benar-benar ingin bersamaku. Oke, aku akui kalau aku egois. Aku, yang masih trauma karena orang tuaku, tidak bisa menerima alasan itu. Aku marah! Setiap inchi akal sehatku menolak alasan itu. Laki-laki, apakah selalu bersikap berbelit-belit? Kenapa tidak langsung dan berterus terang. Terlebih aku mengetahuinya dari orang lain lebih dulu. Aku benci itu.
      Dia mengajakku keluar. Aku ikut dengan setengah hati. Mungkin kalian berpikir aku terlalu berlebihan. Masa hal seperti itu saja dipermasalahkan? Tapi bagiku, ini bukan hal sepele...diitambah pikiran 'aku sebagai pelarian' terus menggema di kepalaku. Bilang saja dia benar-benar mau pacaran denganku hanya karena aku pilihan yang dianggap 'aman' dan direstui oleh tante Laila. Sejak ayah memperlakukan ibu dengan buruk, aku membentengi diriku sekuat tenaga. Aku tidak ingin terluka lagi. Aku berpikir, mungkin tidak semua laki-laki seperti ayah. Aku meletakkan harapan besar pada Feri. Aku merasa bisa menemukan titik terang dalam hidupku. Aku merasa bisa bangkit lagi jika Feri ada di sisiku. Tapi ternyata, kesalahan sedikit saja bisa membuatku bersikap terbalik 180 derajat. Aku terlalu sensitif.
      Terus terang, aku masih sangat menyukainya. Namun aku masih tidak bisa menerima hal itu. Mungkin aku hanya butuh waktu. Hubunganku dan Feri menggantung selama tiga bulan. Feri beberapa kali mencoba menghubungiku. Dia juga mengenalkanku dengan teman-temannya di asrama. Aku mengelak berbicara dengannya. Bisa dibilang hampir setiap teleponnya tidak pernah aku terima lagi. Aku mulai mengkaji ulang pikiranku. Tiga bulan cukup membuatku ber'pikir' dengan hati dan lambat laun, kurasa hati dan pikiranku melunak. Ayah adalah ayah dan Feri adalah Feri. Meskipun mereka berjenis kelamin sama, mereka adalah dua orang yang berbeda. Sayang, saat aku merasa semuanya bisa membaik, Feri  datang menemuiku dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Padahal jauh-jauh hari aku berharap dia mau melanjutkan sekolah di SMA-ku selepas lulus SMP nanti dan memulai segalanya dari awal.
     Ini semua salahku. Aku memang tidak menceritakan semuanya pada Feri. Aku tidak ingin dia mengetahui bagaimana keadaan hatiku dan keadaan keluargaku. Aku bukan tipe orang yang mudah terbuka, sekalipun pada orang tuaku sendiri. Bukan salahnya untuk mengakhiri hubungan kami. Dia lelah dan aku menyadarinya. Aku hanya tidak sadar bahwa semuanya akan berakhir secepat ini. 
Perlahan, kurasakan air mataku mengelus pipiku, lembut.

Kamis, 21 April 2011

Tuhan, Alam, dan Aku

Tuhan...
menciptakan alam dengan segala keindahanNya
menerangi malam dengan bulan purnamaNya
menyisipkan bintang dengan penuh kemilauNya

Tuhan...
alamMu mendengkur indah,
perlahan membisikkan sejuta salam,
menceritakan semua kisah dalam kelam

Tuhan...
bila mentariMu 'kan datang?
kapan Sang suryaMu menyingkirkan malam?

Tuhan...
malamMu menyelami hati
menenggelamkan mimpi...
tapi, malamMu hidup dalam diri
penuh harapan dan impian

Tuhan...
ketika aku menengadah menatap langitMu
kusadari betapa kecilnya tubuh ini
bergoyang diterpa angin,,
seperti goyahnya pendirian hati

Tuhan...
alamMu mendengkur halus
merangkulku dalam gelap
di sini...aku menatapMu