Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

Pisangku sayang

     Rubi berlari masuk rumah. Dia membanting pintu di belakangnya. Wajahnya ditekuk kesal. Luna sudah ribuan kali mencela dan menjelek-jelekkan dirinya.
     "Astapirulohh. Rubi! Kalo masuk mbo ya ngucapin 'assalamualaikum' dulu."
Rubi melirik sekilas. Bunda lari-lari dari dapur sambil membawa sutil kesayangannya.
     "Bunda udah berapa kali bilang? Nanti bunda dikira ndak mendidik kamu yang benar."
   "Iya, Bunda. Iya! Maaf." Rubi melepas sepatu dan kaos kakinya. "Assalamualaikum!"
     "Kok ndak ikhlas gitu?" Bunda melipat tangannnya di dada.
     Rubi manyun. "Bunda, ih! Nggak liat apa Rubi lagi bete?"
     "Bete?" Bunda mengerutkan kening. "Bete apaan toh nduk?"
   "Bundaaaaaa!" Rubi menjerit tertahan. Dia melewati bunda tanpa menoleh-noleh lagi. Kalo Rubi nggak buru-buru pergi dari situ, nanti Rubi tambah emosi trus numpahin amarah ke bunda dan berubah jadi anak durhaka.
     "Habis ganti baju, langsung makan ya, Bi!" pesan bunda, sebelum Rubi hilang di ujung tangga.
     Rubi meilempar tas sekolah di atas meja belajar. Dia melepas seragamnya dan duduk di pinggir beranda. Rubi perlu mendinginkan kepalanya dulu. Belum sampai lima menit duduk, suara bunda yang medok menggelegar dari bawah. Rubi mengganti kaosnya dan terpaksa turun.
     Rubi menatap meja makan. Itu dia. Pangkal dari segala masalahnya. Yang membuatnya diolok-olok setiap saat di sekolah. Sesuatu yang bertengger dengan manis di atas piring. Yang selalu disediakan bunda untuknya. Sesuatu berwarna kuning keemasan. Kalo masak rasanya manis. Kalo mentah, alot dan pahit. Itu. Buah kesukaan Rubi. Juga kesukaan monyet. Pisang.
***
     "Nyet, mau kemana lo?" Agus melingkarkan lengannya di bahu Rubi. 
     Rubi menyodokkan sikunya. "Suka-suka gue, Yam!"
     Agus meringis. "Galak amat sih lo!"
     "Bodo!" Rubi cepat-cepat ngibrit ke kantin. Dia dari dulu bertekad. Siapapun yang memanggilnya makhluk 'Teori Darwin', Rubi akan membalas dengan meminjam nama -saudara-sepupu-sanak keluarga- di kerajaan hutan sesuai nama depan mereka.
     "Eh, Monyet!! Sini!" Hedi melambai padanya begitu Rubi sampai. Luna juga ada, duduk di hadapan Hedi. Dengan malas, Rubi mendekati keduanya. 
   Hedi. Dengan semangat milleniumnya, berusaha mendamaikan kami. Rubi membuang muka. Tanpa disangka, Luna pun angkat suara.
  "Nyet...maafin gue deh. Gue janji nggak bakal ngejek-ngejek pisang lo lagi," Luna menarik ujung seragamnya.
     "Eh, Landak! lo niat minta maaf nggak sih? Kok masih 'nyat-nyet-nyat-nyet' aja?" Rubi mendelik.
   Luna serba salah. "Eh, iya, iya. Gue minta maaf soal itu juga...Bi," ujar Luna, setelah susah payah mengontrol lidahnya.
     "Iya. Gue maafin," Rubi mendengus. "Tapi kali ini aja."
     "Okee! Siap bu...," Luna mengerem mulutnya. Hampir saja 'nyet' meluncur indah.
     "Lun, emang kenapa sih lo sampai ngejelek-jelekin pisang gue, trus menghina dina gue kayak gitu?" tanya Rubi, setelah berpikir sejenak.
     "Kayak gue nggak pernah aja ngehina lo sama pisang lo itu," Luna menyuap baksonya.
     "Tapi 'kan nggak seekstrem itu!"
    Luna menelan pentol baso secepat yang dia bisa. "Kemarin, gue denger Kak Aben -gebetan lo yang oke itu- ngomong sama temennya. Katanya dia...nggak suka pisang," ucap Luna, dengan nada berbelasungkawa paling nelangsa.di dunia.
     Rubi shock. Rubi sangat suka pisang. Kak Aben nggak suka pisang. Berdasarkan logika matematika yang baru dipelajarinya tadi, itu artinya, Kak Aben nggak suka Rubi yang sangat suka pisang!
     "Bi, lo nggak apa-apa?" tanya Luna, cemas.
     Rubi menggebrak meja kantin. Bikin seisi kantin keselek, kaget.
    "Kenapa sih dia nggak suka pisang?" tanya Rubi. Hedi dan Luna menggeleng serentak.
     "Pisang itu tuh. Enak, tau! Bergizi! Bisa jadi pengganti nasi. Juga buat diet!" kata Rubi, berapi-api.
     Hedi dan Luna saling lirik.
    "Kalian tau? Selain kelapa, yang pucuk sampe akarnya berguna, ya pisang itu!" Rubi berdiri, menunjuk nasi bungkus di belakang Hedi. "Tuh, itu tuh, kalo nggak pake daun pisang, nggak oke. Nggak cantik. Nggak tradisional. Trus jantung ato bonggolnya, sebelum jadi pisang, bisa disayur. Kalo jantungnya masak dan jadi pisang, enak buat dimakan kapan aja. Apalagi batangnya, bisa dikumpulin buat dijadiin kertas ato serat pakaian, ato buat main di sungai gitu. Pelepahnya bisa jadi kerajinan tangan. Nah, habis itu tunasnya bisa dibikin kripik. Apalagi yang kurang, coba?" Rubi merepet.
     "Kulit pisangnya buat apaan, Bi?"
     Rubi berbalik. Dion mengangkat alisnya, ingin tahu.
     "Kulitnya...ngg...bisa buat ngerjain orang!" sahut Rubi, nggak ilmiah banget.
  Dion tertawa. "Dasar monyet. Segitu ngebelainnya sama pisang," ujarnya, membangkitkan jiwa 'kehutanan'nya.
    "Eh, Dinosaurus! Lo mesti malu sama monyet. Monyet aja lebih milih makanan sehat dan bergizi model pisang daripada makanan kayak ulet gitu!" Rubi menunjuk piring isi mie goreng yang sisa separo, punya Dion.
     Sekarang, bukan hanya Dion yang menatapnya. Seluruh mata tertuju padanya. Terutama ibu kantin, yang mendelik sambil mendesis, karena Rubi menjelek-jelekan dagangan tak sehat, sumber pencahariannya.
     Luna meninggalkan basonya dan menyeret Rubi keluar dari sana.
     "Lo gila, Bi? Lo mempertaruhkan nasib makan siang lo dalam dua tahun ke depan," Luna memarahinya.
     "Biarin. Gue bisa bawa bekal sendiri," kata Rubi, sewot.
    Hedi bergegas mengejar mereka, setelah ngebayarin baso Luna. Dia geleng-geleng. Kalo urusan pisang ini cowok yang ngomong, pasti artinya melenceng dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.
     ***
     Rubi nggak sengaja liat Kak Aben turun dari tangga kelas tiga bersama teman-temannya. Dan lihat! Mereka semua menuju ke arah Rubi. Rubi panik seketika. Gimana posisi yang oke tapi nggak keliatan 'niat' ngecengin Kak Aben? Rubi duduk di kursi depan kelas. Berdiri. Lalu duduk lagi. Akhirnya dia memutuskan duduk dan mengeluarkan buah kesayangannya dari dalam kotak makan. Rubi menarik kulit pisang dengan sangat-sangat lambat. Biar keliatan normal. Meski keliatannya nggak wajar. Mereka semakin dekat. Semakin pelan Rubi menarik kulitnya.
     Srreeet...
    "Eh, ini cewek yang kemaren, Ben!" Seseorang duduk di sampingnya. Anak kelas tiga. Temen Kak Aben.
  Jantung Rubi jumpalitan. Mereka berenti di depannya! Dan menyapa Rubi! Hellow~ sejak kapan dreamland pindah ke sekolah? Rubi serasa melayang. Terbang ke awan. Menyapa bintang-bintang, halah! 
     Aben mengamatinya. Lalu tersenyum. "Oiya, lo cewek yang seminar pisang di kantin kemaren 'kan?"
     Rubi meringis. Jadi waktu itu dia ada di sana ya?
     "Seminar lo oke juga. Gue nggak kepikiran. Bisa buat bikin TA bahasa gue tuh," sambung Aben.
     Rubi mengernyit. Kayaknya ada yang salah deh.
     "TA? bukannya kakak nggak suka pisang?" tanya Rubi.
    "Lho? kata siapa?" cowok di samping Rubi bertanya, serius. "Aben ini satu rumpun sama monyet. Dia pecinta pisang nomer satu. Dia hampir ikutan lo seminar waktu itu."
     Cowok di depan Rubi merangkul Aben. "Yoi. Pisang sesuai KBBI, 'kan, Ben?"
      Aben tertawa. "Yaiyalah pisang KBBI! Apaan sih lo?"
      Rubi memandang mereka, bingung.
     "Pisang KBBI? pisang jenis apa tuh, Kak?"
     "Pisang kayak yang lo pegang gitu,"
     "Kalo bukan jenis KBBI?" tanya Rubi, polos.
    "Kalo bukan jenis KBBI, ya KBLL. Kalo pisang sesuai KBLL -Kata Benda Laki-Laki-, itu rahasia!" jawab teman Aben.
    Mereka bertiga tertawa. Perlu waktu bagi Rubi buat menelaah obrolan mereka. Sampai akhirnya Rubi 'ngeh' dan membuat wajahnya sedikit memerah. Rubi malu telah bertanya.
     Sialan si Landak! Hampir bikin gue patah hati! Kak Aben nggak suka pisang, kalo pisangnya sesuai KBLL! Tentu aja. Masa pisang makan pisang?

Rabu, 01 Februari 2012

Menggenggam Pasir Last Part

     Kali ini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku pasrah. Kuserahkan segalanya pada Tuhan. Berbulan-bulan tak ada yang bisa kulakukan. Aku menungguNya memberikan petunjuk padaku atau mencabut nyawaku. Tapi, mana?! Setelah segenap jiwaku memohon padaNya, tidak ada sedikitpun balasan yang kudapat. Aku marah besar! Cukup sudah! Aku ingin meninggalkanNya, meninggalkan semuanya. Sungguh aku ingin mati! Mati dan membuat mereka menyesal.
      Aku menunggu kematian. Setiap malam selama tiga bulan, berbaring dengan mata terpejam, dan berharap tak akan terbuka selamanya. Ingin mati, tapi tak berani bunuh diri. Aku berdoa tiap malam, agar Tuhan mengirim malaikat mautnya kepadaku. Entah Tuhan terlalu sayang atau terlalu muak padaku. Tak sedikitpun ada tanda-tanda dia ingin 'membawaku'. KetidakpedulianNya sungguh menyiksaku. Dan...malam itu, aku seperti ditampar. Telak. Aku tersadar. Tuhan tidak akan berbuat apapun untuk kita, jika kita sendiri tidak melakukan apapun. 
     Perlahan...aku bangkit dan membentuk jalanku sendiri, walaupun aku yakin, ada campur tanganNya di situ. Hanya ada satu cara! Menyelamatkan yang masih tersisa. Meski aku tak bisa memperbaiki apa yang sudah hancur. Setidaknya aku bisa mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi. Aku...ingin berteman dengannya. Ingin mengerti keadaannya. Aku ingin Ita bisa bersandar padaku. Bisa mengandalkanku sebagai kakak. Sehingga dia tak perlu memendam semuanya sendirian lagi. Aku mulai mengajaknya berkomunikasi, sedikit demi sedikit. Setiap melihat dirinya, sebagian diriku marah karena kecewa padanya. Tega-teganya dia berbuat seperti itu! Tapi sebagian diriku yang lain menangis. Aku yakin hal-hal ini lebih membuatnya tersiksa. Jauh melebihi perasaan terlukaku. Saat aku benar-benar menginginkan keadaan kami berdua membaik, Tuhan memberiku jalan. Aku bisa lebih dekat dengannya, dengan masuk ke dunia pergaulannya. Satu demi satu kukenal sahabat-sahabat Ita. Aku bisa berbicara dengannya lebih leluasa. Akhirnya kami saling mengenal.
        Lucu memang. Dua saudara, bertahun-tahun bersama, tapi tak pernah duduk berdua di satu tempat. Tak ada satupun di dunia ini yang bisa menukar kebahagiaanku karena aku bisa dekat dengannya. Ita, yang dulu sering sakit-sakitan, selalu dilarang untuk berbuat sesuatu yang diinginkannya. Ayahku tidak peduli. Ibuku memarahinya dan aku membencinya. Setiap hal yang dilakukannya adalah salah. Ita dikungkung seperti orang pesakitan. Dikurung dengan jeruji 'larangan'. Dan merasa diperlakukan seperti anak buangan. Padahal itu semua demi kesehatannya. Justru karena umbul-umbul fisik ambruk dan tekanan mental, akhirnya dia berbuat demikian. Bagai pasir yang semakin erat digenggam, semakin banyak yang hilang. Kami terlalu erat 'menggenggamnya' hingga tak sadar bahwa dia 'hilang' dari 'genggaman'. Sekarang, aku mampu membaca jalan pikirannya. Aku berjanji, tak akan membiarkannya sendirian lagi. Aku berjanji!
       Aku berusaha melupakan Feri, walaupun itu tidak mudah. Aku berani melepaskannya dari pikiranku. Sebagai gantinya, aku mendapatkan Ita kembali ke sisiku. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ayah? Beruntunglah kalian yang punya ayah walaupun sudah meninggal. Setidaknya mereka menyayangi kalian semasa hidup. Sementara kami, memiliki ayah yang masih hidup, tapi 'mati' perasaan terhadap kami. Aku tak pernah punya solusi untuknya. Bertahun-tahun segala upaya menumbuhkan rasa memiliki telah ibu dan aku lakukan. Tapi ketidakpeduliannya sungguh mencengangkan.  Aku tak peduli. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa pasir yang bisa kulindungi. Yang masih berusaha saling menguatkan rasa sayang. Sungguh. Aku tak peduli lagi padanya. Selama aku  masih berdiri di sisi Ibu dan Ita. Aku bahagia.

Minggu, 28 Agustus 2011

Menggenggam Pasir Part 6

       Bertahun-tahun kupikir kehilangan Feri dan kelakuan ayahku adalah hal terburuk. Ternyata aku salah. Satu hal yang paling buruk dan paling kusesali adalah sikapku setelah kedua hal itu terjadi. Aku jadi manusia berbeda. Manusia paling egois yang pernah ada. Manusia tak berhati yang lupa apa itu keluarga. Manusia yang hanya ingin hidup sendiri tanpa gangguan orang lain. Manusia yang tidak pernah kau bayangkan. Manusia yang menyiksa dirinya sendiri agar tak ada satupun yang tahu dia terluka. Manusia yang hidup tanpa tahu apa itu arti bahagia. Manusia yang menyelubungi dirinya dengan 'topeng' dan 'jubah ' penuh kebohongan. Aku bahkan benci melihat bayanganku di cermin. Karena saat itu yang terlihat adalah 'topeng' dan 'jubah' yang seakan 'berjiwa' karena aku terlalu lama memakainya. Aku menjual diriku pada setan!
      Kupikir akulah satu-satunya yang hidup di dunia ini. Aku lupa kalau aku punya Ita. Adikku tumbuh menjadi remaja tanpa kasih sayang ayah dan kakaknya. Remaja yang mencoba bergantung padaku, tapi kutepis karena tak suka. Remaja rapuh yang sudah mengerti, orang-orang yang hidup dalam satu atap ini bukan keluarga. Remaja yang perlahan mulai menjual dirinya pada setan dengan narkoba dan zina.
      Aku tersentak. Tamparan itu benar-benar nyata. Aku menangis di balik topengku. Bertahun-tahun kutelantaran adik semata wayangku, lalu kujerumuskan dia ke lembah nista. Di usia sangat belia, ternyata dialah yang sungguh-sungguh menderita. Selama ini aku menutup mata. Aku buta karena kemarahan. Aku buta karena keegoisan. Aku buta karena sempitnya akal dan pikiranku. 
       Berminggu-minggu aku tak bisa tidur. Menyesali segala kebodohan yang telah kulakukan. Meratapi penyebab kepedihan yang luar biasa dalam bagi ibu. Aku rela menukar nyawaku agar keadaan kembali seperti sedia kala. 'Topeng' dan 'jubah'ku compang-camping. Untuk pertama kalinya aku kembali bersujud padaNya. Dengan lumpur malu dan hina aku kembali mengadu padaNya.
Tuhan...
kali ini aku datang dengan sejuta keluhan,
seandainya aku bisa memilih keadaanku, aku tidak akan begini tersiksa.
Tuhan...
aku sudah pernah bilang, aku rela menukar nyawaku demi kebahagiaan keluargaku, demi hilangnya sakit hati ibuku, demi berubahnya sikap ayahku, demi bertobatnya adikku,
Tuhan...
aku memang kurang berbuat untukMu,
aku malu...tapi aku tak bisa membagi bebanku pada siapapun selain hanya padaMu,
Tuhan...
aku memang tidak bahagia...hidup dalam keadaan seperti ini, aku hanya bisa terlihat tegar demi ibu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuknya, yang berjuang seorang diri memiliki suami dan anak seperti 'itu'
Tuhan...
aku hanya punya diriMu yang bisa menolongku,
aku terus bepikir, apa yang bisa dan harus kulakukan?
apa yang otakku dan tanganku sanggup kerjakan? 
apa yang mampu mengubah segalanya?
Tuhan...
aku harap kau tak segan-segan,
karena tawaranku akan selalu berlaku.

Senin, 23 Mei 2011

Menggenggam Pasir Part 5

     Percaya. Begitu sulitnya kah hal itu untuk dijaga dan dipelihara? Kepercayaan...hanya satu kata, sungguh perlu sejuta jalan untuk mendapatkannya namun hanya perlu sekejap untuk menghancurkannya, tak bersisa. Setiap rasa percaya yang kita berikan atau kita terima, memiliki harga yang harus dibayarkan. Jika kepercayaan itu sendiri disalahgunakan, hanya akan menyakiti dan membuat luka di hati. Kesetiaan dan pengorbanan adalah satu hal yang didasarkan atas rasa kepercayaan. Kepercayaan ada harganya. Ibu percaya. Ibu terluka, dan aku juga. Feri kembali kepada 'pacar tanpa restu'nya.
     Selama ini aku terlalu banyak mengira, lalu berharap. Harapan yang sia-sia. Setahun ini aku bergelut dengan pikiran dan hatiku. Berharap kalau yang kulakukan adalah salah. Aku selalu beranggapan bahwa kepercayaan berada di atas segalanya. Tidak ada yang bisa menggantikan rasa percaya yang sudah hancur berkeping-keping. Tapi ternyata aku salah. Masih ada yang bisa berdiri di atas rasa percaya. Itulah cinta. Hanya karena cinta, ibu memaafkan ayah. Hanya karena cinta, akupun mulai memaafkan Feri. Cinta itu, yang mulai membuatku memupuk rasa percayaku lagi. Aku percaya padanya. Aku percaya dia akan kembali padaku. Aku percaya bahwa anggapanku lah yang salah. Aku percaya dia tidak bermaksud seperti itu. Aku percaya...lalu terluka.
     Hari ini aku menemukan Feri di salah satu sudut ruang guru di sekolahku bersama kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan kepala sekolahku. Feri memakai seragam yang sama denganku. Senyumku mengembang saat mata kami beradu dan dia menyapaku. Dia masuk sekolah ini...!!! aku bersorak dalam hati. Aku cepat-cepat kembali ke kelas dan menceritakannya pada sahabatku, Elly.
     "Yang mana sih orangnya? Aku jadi penasaran nih..." dia mengerucutkan bibirnya. Dari seantreo SMA ini, hanya teman-teman satu SMP-ku saja yang tahu hubunganku dan Feri, termasuk Elly. Dia jadi sahabatku dari SMP dan jadi teman sebangkuku di  SMA, sayang sekarang kami sudah pisah kelas. Keesokan harinya ku tunjukkan yang mana Feri padanya. Lama sekali Elly memandanginya.
     "Hmm...jadi ceritanya, dia adik kelas kita sekarang?" Elly menoleh padaku. Aku mengangguk. "Buat apa dia masuk sekolah di sini?" kali ini aku menggeleng. Aku tidak tahu. Feri tidak pernah mengungkit hal ini karena aku belum pernah menanyakannya. Mungkin saja karena sekolah ini adalah sekolah nomor satu di daerahku. Atau mungkin...."Jangan-jangan dia mau ngejar kamu?" Elly menggodaku. Aku mengelak dan cepat-cepat menariknya ke kantin. Namun, jujur...hal itu sempat terlintas dipikiranku. Apakah Tuhan memberikan kesempatan kedua padaku? untuk memperbaiki segalanya? Sungguh bukan hal yang mudah melupakan rasa cinta yang sudah tertanam lebih dari sepuluh tahun ini.
Seperti sudah kubilang, aku terlalu banyak mengira dan berharap. Aku terlalu percaya karena cinta. Sebulan setelah aku menunjukkan Feri pada Elly, Elly menarikku ke kelasnya.
     "Antia sayang, kamu tahu Ara kan?" tanyanya. Aku mengangguk. Ara adalah teman sekelasku sekarang. 
     "kenapa?"
     "Nah..kamu tahukan kalau aku sama Ara satu ekskul?"
     "Iyaaa...terus kenapa?" Elly keliatan ragu-ragu.
     "Kemarin aku liat dia boncengan sama Feri." dia menatapku sebentar sebelum melanjutkan. "Sebenarnya, udah beberapa kali aku liat."
     "Ooh."
   Elly terlihat agak jengkel. Mungkin reaksi yang diharapkannya terjadi padaku tidak seperti yang dibayangkannya. Aku hanya diam saja. Karena jujur...aku meragukan apa yang dipikirkannya. Aku masih percaya, itu hanya boncengan biasa. Seperti biasa yang kulakukan jika tidak dijemput ibu. Seminggu kemudian setelah kegiatan ekskulku selesai, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mereka berdua di atas satu motor. Feri agak terkejut saat melihatku. Aku tersenyum dengan paksa saat mata kami bertemu. Ara pun melihat ke arahku. Senyumnya agak aneh. Kurasa dia tahu apa hubungan kami dulu. Bagi Feri mungkin yang lalu biarlah berlalu, tapi bagiku? Ah, sudahlah...aku terlalu bodoh.
Setelah hari itu, mereka berdua seakan-akan ingin satu sekolah tahu hubungan mereka. Aku heran. Apa mereka tidak punya tempat pacaran yang lebih baik lagi selain di depan kelasku? Yang lebih menyebalkan, apa Feri tidak bisa mencari pacar di angkatannya saja? kenapa mesti seniornya? dan parahnya, kenapa mesti sekelas denganku?
     Di kelas baruku ini, aku punya orang-orang yang bisa kusebut sebagai sahabat. Tiga laki-laki dan seorang perempuan yang seperti laki-laki. Nanda, Arul, Seto dan Eci. Arul dan Eci tahu permasalahanku ini. Aku sungguh berterimakasih pada mereka berdua yang mau menemaniku atau kujadikan tameng jika Ara dan Feri ada di depan kelasku. Sebenarnya aku ingin menceritakannya juga pada Nanda dan Seto. Sayang mereka berdua sudah terlanjur benci pada Feri. Apakah aku belum menceritakannya? Feri memukul salah seorang teman seangkatanku. Sejak saat itu, dia menjadi salah satu adik kelas yang dimusuhi teman-temanku. Satu lagi ketidakpercayaanku bertambah. Dia bukan Feri yang kukenal.

Kamis, 28 April 2011

Menggenggam Pasir Part 4

     Malam itu aku mendengar penjelasan darinya. Lewat telepon! Feri bilang, dia hanya ingin coba-coba berhubungan dengan orang lain sebelum mendekatiku. Setelah dia berkata seperti itu, aku seakan-akan menulikan telingaku. Alasan apa itu?! Kalau memang ingin coba-coba, kenapa tidak langsung denganku? toh pada akhirnya akan denganku juga. Itu kalau dia benar-benar ingin bersamaku. Oke, aku akui kalau aku egois. Aku, yang masih trauma karena orang tuaku, tidak bisa menerima alasan itu. Aku marah! Setiap inchi akal sehatku menolak alasan itu. Laki-laki, apakah selalu bersikap berbelit-belit? Kenapa tidak langsung dan berterus terang. Terlebih aku mengetahuinya dari orang lain lebih dulu. Aku benci itu.
      Dia mengajakku keluar. Aku ikut dengan setengah hati. Mungkin kalian berpikir aku terlalu berlebihan. Masa hal seperti itu saja dipermasalahkan? Tapi bagiku, ini bukan hal sepele...diitambah pikiran 'aku sebagai pelarian' terus menggema di kepalaku. Bilang saja dia benar-benar mau pacaran denganku hanya karena aku pilihan yang dianggap 'aman' dan direstui oleh tante Laila. Sejak ayah memperlakukan ibu dengan buruk, aku membentengi diriku sekuat tenaga. Aku tidak ingin terluka lagi. Aku berpikir, mungkin tidak semua laki-laki seperti ayah. Aku meletakkan harapan besar pada Feri. Aku merasa bisa menemukan titik terang dalam hidupku. Aku merasa bisa bangkit lagi jika Feri ada di sisiku. Tapi ternyata, kesalahan sedikit saja bisa membuatku bersikap terbalik 180 derajat. Aku terlalu sensitif.
      Terus terang, aku masih sangat menyukainya. Namun aku masih tidak bisa menerima hal itu. Mungkin aku hanya butuh waktu. Hubunganku dan Feri menggantung selama tiga bulan. Feri beberapa kali mencoba menghubungiku. Dia juga mengenalkanku dengan teman-temannya di asrama. Aku mengelak berbicara dengannya. Bisa dibilang hampir setiap teleponnya tidak pernah aku terima lagi. Aku mulai mengkaji ulang pikiranku. Tiga bulan cukup membuatku ber'pikir' dengan hati dan lambat laun, kurasa hati dan pikiranku melunak. Ayah adalah ayah dan Feri adalah Feri. Meskipun mereka berjenis kelamin sama, mereka adalah dua orang yang berbeda. Sayang, saat aku merasa semuanya bisa membaik, Feri  datang menemuiku dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Padahal jauh-jauh hari aku berharap dia mau melanjutkan sekolah di SMA-ku selepas lulus SMP nanti dan memulai segalanya dari awal.
     Ini semua salahku. Aku memang tidak menceritakan semuanya pada Feri. Aku tidak ingin dia mengetahui bagaimana keadaan hatiku dan keadaan keluargaku. Aku bukan tipe orang yang mudah terbuka, sekalipun pada orang tuaku sendiri. Bukan salahnya untuk mengakhiri hubungan kami. Dia lelah dan aku menyadarinya. Aku hanya tidak sadar bahwa semuanya akan berakhir secepat ini. 
Perlahan, kurasakan air mataku mengelus pipiku, lembut.

Minggu, 24 April 2011

Menggenggam Pasir Part 3

       Ingatan-ingatanku setelah kejadian itu kututup rapat-rapat. Aku tidak ingin mengingat lebih jauh lagi. Sejak saat itu, ada 'sesuatu' yang hilang dari keluarga ini. Sekalipun ayah tetap berada di tengah-tengah kami, karena sakit hati atas kejadian itu terus membekas di benak. Hari demi hari perjalanan hidupku kurasakan mulai menghambar.  Siklus hidup yang itu-itu saja tidak membuatku bergairah. Setahun terakhir ini tubuh dan jiwaku seperti 'hidup segan mati tak mau'. Tapi semua itu berakhir saat dia menemuiku. 
     Namanya Feri. Aku tidak mengenalnya dalam dua atau tiga bulan. Aku mengenalnya sejak umurku tujuh tahun. Maklum, dia kan tetanggaku. Feri mempunyai dua orang kakak laki-laki. Ari dan Nazri Selisih umur mereka dua sampai lima tahun. Hanya Feri yang seumuran denganku. Kalau dihitung-hitung, aku mengenalnya selama hampir tujuh tahun. Dan, tahukah kalian? selama itu juga aku menyukainya.
     Aku ingat. Malam itu, Feri datang dengan Najri dan Wilda, sepupunya. Mereka mengajakku keluar untuk makan bakso dan akhirnya aku tahu tujuan asli mereka mengajakku. Feri! Kalau diingat-ingat, lucu juga. Aku seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Bulir-bulir kecil keringat mulai bermunculan di pelipisku. Berbicara berhadapan dengannya membuatku salah tingkah. Bahkan, kalau didengarkan dengan seksama, kadang-kadang ucapanku melantur. Ditambah lagi, Nazri dan Wilda yang tidak henti-hentinya menggodaku.
     Seminggu kemudian Wilda datang lagi, membawa pesan dari Feri. Saat itu aku sedang di loteng. Entah karena Wilda yang gugup, atau aku yang tidak sabaran, aku merasa Wilda berbicara berbelit-belit. Tapi tak urung juga, aku mengulum senyumku. Feri memintaku menjadi pacarnya.
     "Jadi, bagaimana?" Wilda melirik beberapa kali. Aku menatapnya.
     "Dia perlu jawabannya sekarang?"
    "Loh? ya iya lah. Tuh orangnya nungguin kamu di bawah." Wilda mengarahkan telunjuknya ke bawah jendelaku. Aduh, ibu! bagaimana aku menjawabnya? aku ingin turun menemuinya. Tapi di bawah masih ada orang tuaku. Aku takut mereka tidak mengizinkan anak kecil seperti kami berpacaran. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis di atas kertas.
     Dicoba dulu gimana? Kalau cocok kita lanjut, kalau nggak ya...liat nanti.
     Kulipat kertasnya kecil-kecil. Bahkan Wilda 'si kurir cinta' pun tidak kuizinkan untuk melihat isinya. Aku menjulurkan kepalaku. Di bawah sana Feri tersenyum manis. Aku melambai padanya dan kulempar jawaban atas pernyataannya. Sialnya, aku tidak melihat Nazri di situ. Dan parahnya, Nazri yang menyambut kertasku, membukanya, dan membacanya keras-keras. Aku cepat-cepat menarik kepalaku. Rasanya malu sekali.
***
     Aku mengayuh sepedaku cepat-cepat. Panasnya terik matahari membakar seluruh tubuhku, membuatku banjir keringat. Belum lagi asap-asap dari knalpot di sepanjang jalan menambah bumbu perjalanan sepulang sekolahku. Iya. Aku pulang pergi naik sepeda. Kedua orang tuaku sibuk dan tidak bisa mengantar jemputku.  Begitu juga Ita. Ibu mengupah seseorang untuk mengantar dan menjemput Ita.. 
      Meski panas, aku tetap bersemangat mengayuh sepedaku. Hari ini Feri pulang. Sudah hampir enam bulan aku dan Feri berpacaran. Banyak suka dan duka yang kami jalani. Terlebih hubungan kami, hubungan jarak jauh. Feri pindah sekolah ke Solo. Saat aku masuk ke SMA, Feri kelas tiga SMP. Padahal dulu kami setingkat. Bukan karena Feri tidak naik kelas, tapi Feri terpaksa mengulang setahun karena sistem sekolahnya berbeda dari sekolah asal dulu.
Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Kira-kira tiga minggu yang lalu Wilda bercerita padaku kalau Feri pernah pacaran sebelum denganku. Wilda bilang, gadis itu adalah adik kelasku. Feri putus dengannya karena tante Lila (mamanya Feri) tidak suka dengannya. Aku tidak mengerti. Selama ini Feri tidak pernah mengungkit-ungkit hal ini sehingga lambat laun  membuatku berpikir aku hanya sebagai pelarian. Tapi kutepis pikiran itu jauh-jauh. Malam ini, aku akan minta penjelasan darinya.

     
     

Jumat, 15 April 2011

Menggenggam Pasir Part 2

       Sepulang sekolah aku langsung menuju rumah sakit Dr. Priyanto. Aku menyebutnya RS DP. Ini rumah sakit langganan tempat Ita dirawat sejak dia sakit dan harus di rawat pertama kalinya. Kalau dihitung-hitung, mungkin Ita sudah opname hampir dua puluh kali dan aku yakin hampir seluruh perawat bagian anak mengenal Ita. Ibuku bahkan tidak perlu mengurus administrasi rawat inap untuk mengopname adikku karena suster-susternya yang mengerjakan. Pernah suatu kali, saat ibuku tidak berjualan dan tidak punya uang untuk keluar dari DP (ayahku lagi-lagi tidak ada), ibuku hanya meninggalkan KTP-nya. Itu sebabnya rumah sakit ini ditetapkan sebagai rumah sakit pribadi keluarga kami.
       Begitulah tahun demi tahun berlalu. Semuanya mulai berubah saat aku kelas dua SMP dan Ita duduk di kelas tiga SD. Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Sehabis maghrib aku turun dari loteng sambil membawa buku PR ku. Di meja makan ayah duduk sembari menghirup kopinya. Kulihat Ita sudah sibuk membantu ibuku menyiapkan dagangan besok. aku mengambil tempat di sampingnya dan kami mulai bercanda. Aku tidak mengerti bagaimana kejadiannya, tapi tiba-tiba saja terdengar bunyi 'braaak' yang sangat nyaring. Aku dan Ita menoleh.
       Untuk pertama  kalinya dalam hidupku, aku begitu takut. Seluruh makanan di atas meja berhamburan di lantai. Ayahku berdiri dan mulai berteriak-teriak sambil menendang-nendang batang paha ibu. Telingaku tidak menangkap jelas apa yang diributkan mereka berdua. Aku rasakan air mataku menjebol keluar dengan derasnya. Ita yang tidak terima atas perlakuan ayah ke ibu berusaha mendorong-dorong ayah. Dia menangis dan mengeluarkan semua sumpah serapah yang diketahuinya sampai saat ini. Detak jantungku tidak beraturan, napasku memburu, rasanya tenagaku drop dan merembes keluar dari telapak kakiku. Aku berusaha menarik Ita sebisaku agak tidak ikut tersepak ayah. Ayah seperti orang kesetanan. Lidahku kelu. Semakin aku berusaha bicara, semakin kabur penglihatanku oleh air mata. Hanya satu kata yang bisa keluar dari mulutku.
       "Sudaaah!!"
    Aku mengucapkannya dengan gemetar karena berikutnya aku melihat ibuku yang kesetanan. Ibu mengambil pisau didepannya dan mulai mengacung-acungkannya pada ayah.
        "KELUARRR !!!"  Aku melepas Ita dan mulai menarik ibu. 
        "Cukup, Buu!! Huuu..., Buu!!!"
       Ibu mengibaskan lengannya tapi kubelit sebisaku. "KELUARR!!! KALAU KAU TIDAK MAU MATI, KELUAR SEKARAAANNGG!!"
       Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rupanya ribut-ribut ini benar-benar tidak bisa disembunyikan. Saat itu aku melihat tetua kampung kami masuk ke dalam rumah dan berusaha menengahi. Beberapa tetangga yang terkenal dekat dengan ibu mengikuti dari belakang menyuruh ibu menurunkan pisaunya dan mulai menenangkan ibu. Sebagian lagi mendudukkanku dan Ita. Mereka bertanya 'ada-apa' 'ada-apa'. Kami tidak menyahut. Suara-suara gaduh di rumahku mulai diisi suara tangisku, Ita dan ibu. Selanjutnya yang kutahu, ayah ditarik oleh tetua kampung ke rumah ketua RT kami.

Kamis, 07 April 2011

Menggenggam Pasir Part 1

      Namaku Antia.  Mungkin kalian bertanya-tanya siapa aku. Jika kalian lihat, aku hanyalah seorang gadis cilik yang perlahan tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa.Tapi sebenarnya, tahukah kalian? sejak aku kecil aku sudah dewasa. Jangan salah sangka, aku bukan menyombongkan diri. Itu adalah kenyataan. Aku akan mengisahkan pada kalian semua tentang kehidupanku. Kalau kalian merasa tidak tertarik,  cukup sampai di sini kalian membaca tulisan ini. Aku tidak akan memaksa kalian untuk tetap membacanya sampai selesai. Kalau kalian masih ragu-ragu, akupun tidak akan merayu kalian agar tertarik. Tidak peduli apa pendapat kalian, aku akan tetap melanjutkan kisahku.

     Aku hidup bersama kedua orang tuaku dan seorang adik perempuan. Ayahku seorang mandor dari satu proyek ke proyek lainnya. Sedangkan ibuku adalah seorang penjual sayur. Meskipun profesi kedua orang tuaku seperti itu, keadaan kami bisa dibilang keluarga yang berada. Kehidupan masa kanak-kanakku bisa dibilang menyenangkan. Rasanya semakin sempurna saat aku berumur lima tahun, ibuku melahirkan adik perempuan yang sangat cantik dan  membuatku menjadi seorang kakak. Aku menyayanginya dari hatiku yang paling dalam.
     Orang bilang, kasih sayang orang tua akan berkurang seiring dengan hadirnya anggota keluarga yang baru. Itulah yang terjadi padaku. Aku tidak menyalahkan mereka. Sebagai seorang kakak, aku sangat mengerti keadaan ini. Orang tuaku sibuk bekerja dari pagi sampai sore, dan ketika mereka pulang, hanya adikku yang lucu itu saja yang dapat menghibur kelelahan dan keletihan mereka. Itu benar. Kadang akupun tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan bermain dengannya. Orang tuaku menamakannya Ita.
Ita tumbuh menjadi seorang anak yang lucu. Kulitnya putih bersih dan matanya bulat. Dia benar-benar cantik. Potongan rambutnya yang seperti laki-laki tidak membuatnya terlihat jelek, malah sebaliknya. Jika kami berjalan beriringan atau duduk berdampingan, banyak orang yang bilang bahwa kami berdua tidak mirip. Itu juga benar. Kulirik tubuhku yang hitam kecoklatan. Mataku juga biasa-biasa saja. Walau jauh dari kategori cantik, orang-orang menyebutku manis (aku yakin itu hanya untuk menghiburku). Haha...
Sayang adikku yang lucu itu sering sakit-sakitan sejak TK. Hal ini terus berlanjut sampai Ita SD.Seperti malam ini. Tubuhnya yang gempal terguncang saat batuknya menjadi-jadi. Mata Ita memutih dan dia mulai menangis. Ibu menatapku.
       "Kemasi barang-barang! Kita berangkat sekarang."
      Aku langsung mengerjakannya tanpa bertanya-tanya lagi. Hal ini sudah menjadi rutinitas bagi kami. Jika Ita sudah menunjukkan gejala-gejala seperti itu, maka sesudahnya bisa ditebak. Ita akan memuntahkan seluruh isi perutnya dan mulai kejang.Aku tidak tega melihatnya seperti itu.
Tanganku meraih termos kecil dan memasukkannya ke dalam tas kain. Lalu aku mulai berlari ke kamar dan mengambil beberapa lembar baju Ita. ibu memasangkan jaket Ita ketika aku sudah selesai mengemasi barang yang akan dibawa.
    "Ya, kamu jaga rumah ya. Jangan kemana-mana." Ibu menaikkan Ita di jok belakang motor dan mengikatnya dengan selendang ke tubuhnya sendiri. Aku mengangguk.
       "Hati-hati, Bu."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi ibu pergi membawa Ita naik motor. Sendirian. Aku masuk ke dalam rumah dan menguncinya.Kulirik jam dinding. Jam dua pagi. Saat seperti ini ayahku malah tidak ada. Entah proyek apa yang dikerjakannya sampai bekerja semalam ini. Aku duduk gelisah di ruang tamu menunggu telepon dari ibuku. Sejam kemudian datang telepon dari ibuku bahwa Ita memang harus diopname. Setelah memastikan semua baik-baik saja, aku pergi tidur.
***